Tingkatan pertama adalah keilmuan dari garis keilmuan (lineage) Abah Haji Toha.
Pada tingkatan ini para calon ikhwan harus terlebih dahulu diberikan pembangkitan (attunement) dengan cara di gores di perut oleh seorang perawat Al-Hikmah.
Dan kemudian ikhwan yang sudah di gores diberikan 6 wirid pokok yang harus didawamkan dalam 7 hari berturut-turaut ba’da shalat wajib. Jika tahapan “penguncian” ini dilakukan, maka wirid bebas dilakukan kapan saja.
Pada tingkat pertama ini, ikhwan harus belajar dan mampu melakuakan teknik “kedut” Al- Hikmah untuk antisipasi serangan atau berbagai kebutuhan lainnya.
Proses pengencangan perut, melalui diafragma intinya adalah fokus pengencangan/kedut pada "dua jari diatas pusar". Pada tahapan praktis dan aplikatif, apapun yang terjadi atau dibutuhkan lakukan dengan kedut/kencangkan/kompres perut.
Tingkatan kedua adalah keilmuan dari garis keilmuan (lineage) Abah Haji Amilin. Para ikhwan yang sudah merasa naik tingkat harus di cek dulu oleh perawat apakah dirasa berhak untuk “naik tingkat” atau tidak.
Pada tahapan ini ikhwan akan dibangkitkan dengan fokus pada kekuatan tangan, alias sudah tidak fokus lagi pada perut. Cukup dengan kencangkan serta kibasan tangan musuh yang menyerang bisa terpental, tanpa perlu tahan nafas. Pada tahapan ini, berdasarkan wawancara dengan pewaris ilmu Al-Hikmah Haji Ade mengacu pada kekuatan “Cahaya Musa” yang memancar di tangan.
Tingkatan ketiga adalah perawat, dimana ikhwan al-hikmah sudah di beri hak untuk mengisi pada media benda (air, cincin, pagar rumah dll) dan kemudian diberi hak untuk melakukan membangkitkan(attutnement/”menggores”) ilmu alhikmah. Tentunya syarat untuk menjadi perawat, sangat tergantung dari ijin perawat al-hikmah.